Peran Gaya Hidup Belanja dan Pembelian Impulsif dalam Hubungan antara Visual Merchandising dan Intensi Pembelian Ulang
DOI:
https://doi.org/10.61674/885bhj05Keywords:
Visual Merchandising, Gaya Hidup Belanja, Pembelian Impulsif, Intensi Pembelian UlangAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran gaya hidup belanja (shopping lifestyle) dan pembelian impulsif (impulsive buying) dalam menjembatani hubungan antara visual merchandising dengan intensi pembelian ulang (repurchase intention). Visual merchandising merupakan salah satu strategi pemasaran ritel yang menitikberatkan pada penataan visual, baik melalui desain etalase, tata letak produk, pencahayaan, maupun dekorasi toko, yang secara langsung memengaruhi persepsi konsumen terhadap suatu merek. Sementara itu, gaya hidup belanja dipahami sebagai pola perilaku konsumen yang merefleksikan nilai, minat, serta kebiasaan dalam berbelanja. Pola ini dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh visual merchandising terhadap keputusan berulang konsumen. Selain itu, pembelian impulsif menjadi faktor penting yang bertindak sebagai variabel mediasi, di mana konsumen cenderung terdorong untuk membeli produk tanpa perencanaan akibat rangsangan visual yang menarik. Fenomena ini berpotensi meningkatkan niat konsumen untuk kembali melakukan pembelian pada kesempatan berikutnya. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menekankan pada hubungan langsung antara visual merchandising dan intensi pembelian ulang, tetapi juga menyoroti mekanisme psikologis yang mendasarinya melalui gaya hidup belanja serta kecenderungan membeli secara spontan. Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan penyebaran kuesioner kepada responden yang pernah berbelanja di pusat perbelanjaan modern. Data dianalisis menggunakan teknik Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji pengaruh langsung maupun tidak langsung antarvariabel. Hasil yang diharapkan menunjukkan bahwa visual merchandising memiliki pengaruh positif terhadap intensi pembelian ulang, baik secara langsung maupun melalui pembelian impulsif sebagai variabel mediasi. Selain itu, gaya hidup belanja diprediksi berperan signifikan sebagai variabel moderasi yang memperkuat keterkaitan tersebut.











